Download Info Pack
Darah Tali Pusat
Darah Tali Pusat

Mengapa menyimpan darah tali pusat

Sejak tahun 1988, sel punca darah tali pusat telah digunakan untuk mengobati sejumlah penyakit yang jumlahnya terus bertambah , termasuk kelainan darah dan metabolik, gangguan imunodefisiensi dan penyakit autoimun. Sel ini telah terbukti berguna dalam pengobatan kanker dan kelainan darah seperti neuroblastoma, leukemia dan limfoma dan talasemia. Melanjutkan terobosan yang menjanjikan untuk terapi selular dan kedokteran regeneratif yang berkembang pesat dalam waktu dekat ini.

ketika ditransplantasikan kepada pasien, sel punca hematopoietik bermigrasi ke dalam sumsum tulang dan memproduksi sel darah yang baru, meningkatkan sistem imunitas. Dengan kemajuan tekknologi yang cepat, jumlah penyakit yang dapat diobati dengan terapi sel punca diharapkan bertambah.

5 teratas alasan lainnya untuk menyimpan darah tali pusat:

  1. Sekitar 3.000 anak anak indonesia berusia kurang dari 15 tahun didiagnosa dengan leukemia setiap tahunnya1.
  2. Talasemia mayor dan leukemia, dua dari penyakit yang paling sering terjadi di indonesia, dapat diobati dengan sel punca. Sekali terlewat, sel punca hanya dapat diambil dari sumber lain termasuk sumsum tulang, yang prosesnya terasa menyakitkan.
  3. Anda hanya memiliki satu kesempatan untuk menyimpan darah tali pusat bayi anda; yaitu saat persalinan.
  4. 1 dari 500 bayi lahir di dunia menderita serebral palsi, suatu gangguan neurologis2. Sampai saat ini pada terapi selular telah menunjukkan potensi untuk pengobatan untuk penyakit tersebut.
  5. Sel punca dari bayi kita dapat digunakan juga untuk saudara kandungnya. Riset menunjukkan bahwa pasien pulih lebih baik dan survival rate dua kali jika mereka menerima sel punca dari saudaranya3.

Bagaimana Sel Punca digunakan

Transplantasi sel Punca

Hal ini dilakukan untuk menyusun kembali darah dan sistem kekebalan tubuh pasien, setelah pengobatan seperti kemoterapi atau radioterapi, yang menghancurkan sel darah.

Sel-sel punca langsung di infuskan ke dalam aliran darah pasien, yang nantinya bermigrasi ke sumsum tulang. Di dalam lingkungan sumsum tulang, sel-sel punca mulai berdeferensiasi menjadi tiga jenis sel darah - darah merah, darah putih dan trombosit. Ini mendorong regenerasi darah pasien dan sistem kekebalan tubuh.

Transplantasi darah tali pusat pertama dilakukan pada tahun 1988 di Perancis, yang berhasil mengobati seorang anak berusia 5 tahun yang menderita Anemia Fanconi. Sampai saat ini sudah ada lebih dari 30.000 transplantasi sel punca darah tali pusat dilaporkan dari seluruh dunia4

Terapi seluler

Banyak aplikasi baru yang masih mengalami perkembangan. Dalam beberapa kasus, seperti cedera tulang belakang dan serangan jantung, sel-sel secara langsung disuntikkan ke dalam jaringan yang rusak. Beberapa manfaat yang dialami tampaknya karena pembentukan pembuluh darah baru, yang mengembalikan aliran darah ke jaringan yang rusak.

Dalam perkembangannya, kami berharap bisa melihat penggunaan sel Punca dengan cara yang lain. Dalam beberapa kasus, sel-sel induk akan diperlakukan di laboratorium untuk membuat jenis sel baru sebelum digunakan. Dalam kasus lain, mereka akan dikirimkan langsung ke jaringan yang rusak.

Sumber:
1. Mostert S, Sitaresmi MN, Gundy CM, Veerman S and AJP. Influence of socioeconomic status on childhood acute lymphoblastic leukaemia treatment in Indonesia. Pediatrics 2006;118;e1600-1606.
2. Hirtz D, Thurman DJ, Gwinn-Hardy K, Mohamed M, Chaudhuri AR, Zalutsky R. How common are the "common" neurologic disorders?[abstract]. Neurology 2007;68(5):326-327. Accessed Dec 29, 2011, PMID:17261678
3. Bizzetto R, Bonfim C, Rocha V, et al. Outcomes after related and unrelated umbilical cord blood transplantation for hereditary bone marrow failure syndromes other than Fanconi anemia. Haematologica 2011;96(1):134-41
4. Ballen K., Gluckman E., Broxmeyer H. Umbilical cord blood transplantation: the first 25 years and beyond. Blood. 2013;122(4):491-498.