Download Info Pack

Risiko Hamil dan Melahirkan Pada Usia Matang

Oleh Dr. Ann Tan
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi
MBBS (S'pore), MRCOG (London), MMed (O&G), FAM (S'pore)



Wanita berusia matang adalah definisi wanita yang berusia lebih dari 35 tahun saat melahirkan. Tidak masalah jika wanita atau pasangannya telah memiliki anak sebelumnya. Nah, apa saja risiko menjadi ibu pada usia matang? Berikut penjelasannya. .

1. Penyusutan rahim

Pada usia lebih dari 35 tahun, kemungkinan besar wanita telah menghabiskan sebagian besar rahimnya. Karena itu, ia memiliki peluang lebih kecil untuk mengalami pembuahan dan kelahiran hidup dibandingkan dengan wanita usia di bawahnya. Bukan hanya jumlah sel telur yang lebih sedikit, kualitas sel telur juga dipertanyakan karena cenderung tidak normal.


2. Keguguran dan bayi lahir dengan kelainan kromosom

Pada usia 20-an, sekitar 10% kehamilan mengalami keguguran. Pada usia 30–34 tahun sekitar 10%. Pada usia 35–39 tahun sekitar 20%. Pada usia 40–44 tahun sekitar 35%. Seiring bertambahnya usia, jumlah sel telur yang tidak normal juga bertambah. Jika sel telur tidak normal, pembuahan yang terjadi pun akan tidak normal. Itulah sebabnya risiko keguguran terus meningkat.

Risiko melahirkan bayi dengan kelainan kromosom, contohnya Down Syndrome, melonjak secara eksponensial. Perbandingannya, jumlah bayi dengan Down Syndrome 1:800 pada ibu usia 20 tahun, 1:250 pada ibu usia 35 tahun, dan 1:100 pada ibu usia 40 tahun saat melahirkan. Risiko lahir bayi autis dan cacat turut dikaitkan dengan bertambahnya usia ibu saat pembuahan.


3. Masalah medis dan ginekologis

Kehamilan pada usia matang meningkatkan risiko masalah medis dan ginekologis. Masalah-masalah yang umum terjadi adalah penyakit tiroid (apakah itu hipertiroidisme atau hipotiroidisme), hipertensi, diabetes, atau bahkan gangguan ginjal dan autoimun. Masalah-masalah tersebut dapat mempersulit kehamilan dengan meningkatkan risiko kelainan janin jika kondisi penyakit tidak terkontrol baik. Misalnya penyakit tiroid, penyakit tiroid yang tidak terkontrol baik berpotensi merusak perkembangan IQ janin.


4. Bayi meninggal dalam kandungan

Ada risiko kecil, tapi serius lainnya bagi bayi dari ibu berusia matang, yakni lebih banyak bayi meninggal di dalam kandungan saat akhir kehamilan. Pada 2006, angka kematian saat kelahiran stabil pada 5–6 bayi per 1.000 kelahiran untuk wanita berusia 20–39 tahun dan meningkat hingga di bawah 9 bayi per 1.000 kelahiran untuk wanita berusia lebih dari 40 tahun.

Peningkatan risiko ini tidak dapat dijelaskan apakah berhubungan dengan komplikasi kehamilan atau penyakit lain. Karena itu, biasanya perawat lebih waspada terhadap kehamilan ibu berusia matang pada beberapa minggu terakhir jelang melahirkan. Meskipun risiko meningkat seiring bertambahnya usia, penting untuk diingat bahwa sebenarnya sebagian besar kondisi fisik bayi terlahir baik-baik saja, kecuali untuk faktor kelainan kromosom. Angka menunjukkan bahwa bayi dari ibu berusia matang tidak lebih berisiko terlahir cacat dibandingkan dengan ibu yang lebih muda.


5. Peningkatan perawatan melahirkan

Ada pola yang menunjukkan terjadinya peningkatan perawatan melahirkan seiring bertambahnya usia ibu. Jika Anda berusia lebih dari 35 tahun, Anda lebih mungkin mengalami persalinan induksi, epidural, forsep, atau vakum. Hampir semua penelitian sepakat bahwa keharusan melahirkan cesar pun meningkat pada usia ini. Namun, tidak perlu cemas berlebihan karena Anda akan mendapatkan perawatan yang tepat setelahnya.


Tes untuk memeriksa kesehatan janin

Maternal serum screening dan beberapa tes lain akan memberikan gambaran kepada Anda tentang perkiraan risiko hamil dan melahirkan. Untuk kepastian lebih lanjut, beberapa tes seperti chorionic villus sampling atau amniocentesis dapat memberikan diagnosis yang akurat, yang memungkinkan ibu memutuskan terpaksa mengakhiri kehamilan atau mempersiapkannya untuk bayinya yang kelak berkebutuhan khusus. Perlu dicatat, ibu tidak perlu mengikuti tes ini jika memang tidak ingin dihadapkan pada keputusan apa pun tentang bayi yang belum lahir.


Keuntungan menjadi ibu berusia matang

Pasangan berusia matang lazimnya berada pada posisi finansial dan mental yang lebih siap untuk menerima perubahan yang akan dibawa seorang anak ke dalam kehidupan mereka. Sumber daya untuk perawatan kehamilan dan pemenuhan nutrisi untuk ibu serta bayi cenderung lebih baik. Ini sangat bermanfaat bagi ibu, membantunya mengawali semua proses dengan langkah yang lebih baik sebagai ibu.

Konsumsi makanan segar dan suplemen selama masa kehamilan. Nutrisi yang bagus akan mengurangi risiko cacat bawaan pada janin. Jaga tubuh tetap terhidrasi. Berolahraga untuk memastikan peredaran darah lancar karena hal ini akan meningkatkan kualitas produksi sel telur.

Pastikan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan setiap tahun. Cek semua vaksinasi apakah sudah sesuai. Tunaikan tindakan penyembuhan demi meningkatkan kesehatan calon ibu, misalnya menangani penyakit diabetes ibu secara khusus.


Apakah pasangan dengan usia matang berperan penting?

Pria berusia matang juga memiliki peran penting. Kesehatan ayah tidak boleh dikesampingkan. Hormon pria berusia matang cenderung lebih rendah. Gaya hidup yang penuh tekanan dapat menghambat produksi sperma.

Pria berusia matang memiliki risiko lebih besar mengalami kelainan medis dan fisik seperti varikokel, infeksi saluran kemih, batu ginjal, atau prostatitis yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas sperma. Mintalah pasangan Anda melakukan pemeriksaan medis secara komprehensif sebelum Anda berdua merencanakan kehamilan.

Kesimpulannya, berbicara tentang memiliki anak berarti berbicara tentang KEBERANIAN. Perjalanan menjadi orangtua selalu menyenangkan karena ini menjadi bagian dari perjalanan kehidupan bersama yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Setiap orang sudah seharusnya bersyukur.