
Memahami Penyakit Paru: Asma
Asma merupakan penyakit peradangan paru menahun yang bervariasi waktu dan keparahannya. Asma memiliki gejala awal berupa batuk dan sesak. Sesak dirasakan adanya rasa sulit bernapas, napas pendek, dada terasa terjepit dan terasa pengap. Pada orang dengan asma, saat sedang sesak akan terdengar suara khas berupa mengi atau suara napas tambahan yang terdengar seperti bunyi “ngik-ngik”.
Asma disebabkan oleh penyempitan saluran pernapasan akibat reaksi radang di area sekitarnya. Penyempitan ini menyebabkan udara sulit untuk masuk dan keluar. Bagaikan udara yang keluar melewati kedua bibir yang hampir dirapatkan seperti ketika sedang bersiul, maka akan timbul suara khas yang terdengar seperti bunyi “ngik-ngik”. Jumlah udara yang sedikit menyebabkan oksigen yang masuk ke paru-paru juga sedikit sehingga timbul rasa sesak. Selain itu, pada anak-anak reaksi peradangan pada saluran napas menimbulkan batuk.
Asma dicetuskan oleh banyak hal, baik berupa pajanan alergen atau bahan iritan, aktivitas fisik berlebihan, tertawa, udara yang dingin, perubahan cuaca, maupun infeksi pernapasan. Alergen yang dapat menimbulkan asma dapat berupa makanan, debu, hewan, serangga, obat, ataupun hal spesifik lainnya. Orang tua perlu memperhatikan riwayat atopik pada anak maupun pada keluarga. Riwayat atopik ini dapat berupa riwayat alergi sebelumnya, asma, eksim, serta rhinitis alergi (pilek yang disebabkan oleh alergi). Riwayat atopik ini meningkatkan kemungkinan terjadinya asma pada anak.
Asma dapat timbul secara tiba-tiba, lalu sembuh dengan ataupun tanpa obat selama berminggu-minggu ataupun berbulan-bulan. Walaupun begitu, serangan asma bisa timbul dan mengancam jiwa. Asma berkaitan dengan respon radang yang berlebihan akibat pencetus tertentu. Proses ini akan terus terjadi walaupun gejala asma sudah tidak pernah muncul lagi.
Orang tua perlu memperhatikan beberapa hal jika mencurigai anak terkena asma, yaitu mengamati riwayat atopik pada keluarga dan anak. Apabila ada yang memiliki riwayat atopik, maka ada kemungkinan anak mengalami asma. Anak yang sudah terdiagnosis asma harus rutin kontrol ke dokter untuk mengevaluasi gejala, keparahan, dan kekerapan timbulnya asma. Obat yang diberikan oleh dokter harus dikonsumsi sesuai anjuran.
Apabila terdapat tanda bahaya berupa tarikan dinding dada yang dalam, anak hanya nyaman dengan posisi duduk membungkuk ke depan, tidak mau makan dan minum, tampak mengantuk, dan sulit dibangunkan maka anak perlu segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Kini, terapi asma terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi kedokteran. Terapi regeneratif menggunakan stem cell, termasuk yang berasal dari darah dan jaringan tali pusat, juga terus menjadi bagian dari penelitian untuk melihat potensi dan keamanannya dalam berbagai kondisi kronis. Meski penelitian mengenai penggunaannya untuk asma masih terus berkembang, kemajuan ini membuka harapan baru bagi pengembangan terapi di masa depan. Karena itu, menyimpan darah dan jaringan tali pusat saat kelahiran bukan hanya tentang hari ini, tetapi juga tentang menjaga sebuah potensi biologis untuk masa yang akan datang. Pelajari lebih lanjut mengenai penyimpanan darah dan jaringan tali pusat melalui website kami https://www.cordlife.co.id/en/why-save-cord-blood
Sumber tambahan:
Global Initiative for Asthma. Global Strategy for Asthma Management and Prevention, 2026. Updated May 2026. Available from: https://ginasthma.org/