
Memahami Penyakit Paru: Pneumonia pada Anak

Pneumonia merupakan penyakit yang perlu mendapatkan perhatian khusus, terutama jika menyerang anak-anak. Pneumonia adalah peradangan pada paru-paru yang dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya infeksi bakteri, virus, jamur, maupun pajanan bahan kimia. Peradangan pada paru-paru dapat menyebabkan penumpukan cairan sehingga anak mengalami kesulitan bernapas.
Pada anak-anak, pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Berdasarkan data UNICEF (2024), terdapat sekitar 725.000 kematian pada anak berusia di bawah 5 tahun, dengan 190.000 di antaranya merupakan bayi baru lahir yang lebih rentan mengalami infeksi. Risiko ini terutama berkaitan dengan sistem imun anak yang masih berkembang sehingga belum mampu memberikan perlindungan secara optimal terhadap berbagai infeksi.
Pneumonia lebih rentan terjadi pada balita dan bayi baru lahir, terutama anak dengan riwayat lahir prematur, imunisasi yang tidak lengkap, tidak mendapatkan ASI, maupun mengalami kekurangan gizi. Selain faktor tersebut, beberapa kondisi medis juga dapat meningkatkan risiko pneumonia. Penyakit paru-paru seperti asma, PPOK, kistik fibrosis, dan bronkiektasis dapat membuat anak lebih rentan mengalami infeksi. Risiko juga lebih tinggi pada anak dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, seperti pada AIDS, pasca transplantasi organ, menjalani kemoterapi, atau menggunakan steroid dalam jangka panjang. Penyakit kronis seperti anemia sel sabit, diabetes, dan gagal jantung, serta kondisi yang membutuhkan perawatan di unit perawatan intensif, juga dapat meningkatkan risiko terjadinya pneumonia.
Selain kondisi kesehatan anak, lingkungan tempat anak tinggal juga perlu diperhatikan. Salah satu faktor risikonya adalah polusi udara yang tidak hanya berasal dari luar rumah, tetapi juga dapat berasal dari dalam rumah. Kegiatan memasak dapat menghasilkan partikel dan asap pembakaran yang menyebar ke seluruh rumah. Apabila ventilasi rumah kurang baik dan tidak terdapat sekat antara dapur dengan ruangan lain, paparan asap dapat berlangsung lebih lama sehingga anak lebih berisiko mengalami infeksi.
Pneumonia umumnya ditandai dengan batuk, sesak, dan demam. Namun, pada anak-anak, kondisi ini dapat mengalami perburukan dengan lebih cepat sehingga orang tua perlu mengenali tanda bahayanya. Anak yang mengalami pneumonia dapat menunjukkan napas yang tampak cepat dan berat, cuping hidung yang bergerak ketika bernapas, atau adanya tarikan dinding dada yang dalam. Suara napas seperti mengi ataupun mendengkur juga dapat muncul. Anak mungkin tampak lebih nyaman dalam posisi duduk membungkuk ke depan. Selain itu, orang tua perlu waspada apabila anak tidak mau makan dan minum sama sekali, tampak sangat lemas, hingga sulit dibangunkan.
Apabila anak menunjukkan tanda-tanda tersebut, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Intervensi medis yang dilakukan lebih dini diharapkan dapat membantu mencegah kondisi menjadi semakin berat. Terapi pneumonia hingga saat ini dilakukan dengan mengatasi penyebabnya, salah satunya melalui penggunaan antibiotik. Selain itu, terapi suportif dapat diberikan sesuai dengan kondisi anak, seperti pemberian oksigen, cairan, dan obat penurun demam.
Seiring dengan berkembangnya penelitian mengenai terapi berbasis sel, stem cell juga berpotensi menjadi salah satu terapi pendukung untuk pneumonia. Menurut Song et al (2021) Mesenchymal stem cell (MSC) tidak bekerja dengan menggantikan sel paru yang rusak ataupun mengatasi infeksi yang terjadi, melainkan melalui kemampuan imunomodulator yang berpotensi membantu mengendalikan peradangan yang terjadi akibat pneumonia. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa MSC dapat berinteraksi dengan sel imun dan sel epitel paru serta melepaskan berbagai mediator yang membantu menurunkan respons pro-inflamasi, melindungi sel alveolar, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pemulihan jaringan paru pada pneumonia yang akibat COVID-19.
Hal senada juga dikemukakan oleh Liu et al. (2023) Berdasarkan meta-analisis yang dilakukannya disimpulkan bahwa Mesenchymal stem cell yang bersumber dari tali pusat merupakan salah satu terapi suportif yang efektif untuk penanganan pneumonia akibat COVID-19 dengan efek samping yang minimal, sehingga dinilai aman. Meski demikian, penggunaan MSC untuk pneumonia masih terus diteliti dan memerlukan bukti klinis yang lebih luas untuk menentukan efektivitas serta penerapannya secara optimal.
Pemahaman mengenai pneumonia dan berbagai pilihan penanganannya merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan Si Kecil. Di sisi lain, perkembangan penelitian di bidang terapi berbasis sel juga membuka kemungkinan pemanfaatan stem cell di masa depan. Darah dan jaringan tali pusat merupakan sumber berharga yang mengandung berbagai jenis sel, termasuk hematopoietic stem cell (HSC) dan mesenchymal stem cell (MSC), yang saat ini terus diteliti untuk berbagai kebutuhan medis. Melalui penyimpanan darah dan jaringan tali pusat sejak kelahiran, orang tua dapat mempersiapkan dan menjaga potensi sumber daya biologis ini untuk kemungkinan pemanfaatannya di masa depan.
Tambahan sumber
- Liu Q, Ma F, Zhong Y, Wang G, Hu L, Zhang Y, Xie J. Efficacy and safety of human umbilical cord-derived mesenchymal stem cells for COVID-19 pneumonia: a meta-analysis of randomized controlled trials. Stem Cell Res Ther. 2023 May 4;14(1):118. doi: 10.1186/s13287-023-03286-8. PMID: 37143167; PMCID: PMC10159228.
- Song N, Wakimoto H, Rossignoli F, et al. Mesenchymal stem cell immunomodulation: In pursuit of controlling COVID-19 related cytokine storm. Stem Cells. 2021; 39: 707–722. https://doi.org/10.1002/stem.3354