Lompat ke isi utama

 

Memahami Penyakit Paru : Fibrosis Paru

Bernapas kadang menjadi nikmat yang terlupakan, padahal jika ada gangguan dalam bernapas banyak kegiatan dalam hidup kita yang dapat terganggu. Salah satu penyakit yang mengganggu saluran pernapasan adalah fibrosis paru. Fibrosis Paru atau Pulmonary Fibrosis (PF) adalah kondisi di mana terdapat luka pada paru-paru yang kemudian membentuk jaringan parut yang disebut fibrosis. Kondisi ini menyebabkan paru-paru sulit mengembang dan menghambat penyerapan oksigen. 

Terhambatnya penyerapan oksigen dapat menimbulkan gejala seperti sesak nafas, batuk kering yang terus-menerus, penurunan berat badan, gampang lelah, nyeri sendi dan clubbing finger (pelebaran dan pembulatan pada ujung jari tangan dan kaki).

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan fibrosis paru, di antaranya lingkungan pekerjaan yang sering terpapar partikel kimia berbahaya seperti debu asbes, debu silika dan debu logam. Fibrosis paru juga bisa menyerang orang dengan riwayat penyakit tertentu seperti tuberkulosis, pneumonia, dan penyakit autoimun. Selain itu, konsumsi obat-obatan tertentu seperti obat gangguan irama jantung, beberapa golongan antibiotik serta obat anti peradangan tertentu berisiko mencetuskan peradangan paru yang dapat menyebabkan fibrosis paru, selain itu  radioterapi, yang umumnya dilakukan untuk mengobati kanker, ternyata juga menjadi faktor pencetus terjadinya fibrosis paru. 

Saat ini penanganan fibrosis paru dapat dilakukan melalui beberapa metode yaitu pemberian obat-obatan golongan kortikosteroid seperti prednisone bertujuan untuk mengurangi peradangan yang terjadi di paru-paru, obat penghambat tirosin kinase seperti nintedanib  bertujuan untuk memperlambat pembentukan jaringan parut di paru-paru juga terapi oksigen tambahan diberikan untuk membantu mencegah kondisi kekurangan oksigen. Selain itu, rehabilitasi paru dapat dilakukan melalui latihan fisik dan teknik pernapasan guna meningkatkan fungsi serta kinerja paru-paru sehingga dapat membantu mengurangi gejala yang dialami pasien. Apabila berbagai metode penanganan tersebut tidak memberikan hasil yang memadai dan kondisi paru-paru sudah semakin parah, transplantasi paru dapat menjadi salah satu pilihan dengan mengganti paru-paru yang rusak dengan paru-paru yang sehat. 

Seiring dengan berkembangnya metode pengobatan, saat ini sudah banyak uji klinis yang dilakukan terkait terapi stem cell sebagai terapi fibrosis paru, terutama pada kasus fibrosis paru idiopatik. Berdasarkan laporan kasus yang dilakukan Zhang et al (2017) didapatkan hasil yang positif. Seorang pasien dengan fibrosis paru idiopatik diterapi dengan mesenchymal stem cell (MSC) yang didapatkan dari tali pusat, hasilnya setelah 12 bulan pasca terapi stem cell, pasien menunjukkan penurunan kebutuhan terapi oksigen jangka panjang. Selain itu, terdapat perbaikan pada kemampuan melakukan aktivitas fisik, kualitas hidup, serta beberapa parameter fungsi pernapasan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian mesenchymal stem cell (MSC) yang berasal dari tali pusat melalui infus intravena menunjukkan potensi manfaat bagi pasien dengan idiopathic pulmonary fibrosis (IPF) atau fibrosis paru idiopatik, dan dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan terapi tambahan di masa mendatang. Tentu saja, terapi stem cell bagi pasien dengan fibrosis paru perlu dipertimbangkan dengan baik, dengan juga memperhitungkan kondisi yang melatarbelakangi fibrosis paru pada masing-masing pasien.  

Sumber stem cell yang digunakan pada penelitian di atas adalah tali pusat, sumber stem cell 

ini dikumpulkan ketika bayi lahir tanpa menyakiti ibu dan bayi. Selain itu, sumber stem cell ini dapat disimpan dan digunakan jika dibutuhkan di kemudian hari. Di Indonesia, PT Cordlife Persada telah  menjadi pilihan untuk menyimpan darah dan jaringan tali pusat sejak tahun 2003, dan telah menjadi pilihan lebih dari 10.000 keluarga di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut mengenai penyimpanan darah dan jaringan tali pusat dapat diakses melalui https://www.cordlife.co.id/id