
Pahami Gangguan Perkembangan Anak: Autism Spectrum Disorders

Tumbuh kembang anak yang baik menjadi fokus utama setiap orang tua.Menyaksikan tumbuh kembangnya menjadi anak yang sehat dan berprestasi menjadi dambaan semua orang tua. Namun, tidak semua anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal, beberapa anak mengalami gangguan perkembangan, salah satunya autism spectrum disorder (ASD) atau yang dikenal masyarakat dengan autisme. Autism spectrum disorder adalah gangguan perkembangan otak dan saraf yang mempengaruhi kemampuan anak dalam berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku.
Hingga saat ini, penyebab pasti autism spectrum disorder masih belum diketahui. Para peneliti meyakini bahwa autism spectrum disorder tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan merupakan hasil interaksi berbagai faktor genetik, biologis, dan lingkungan yang dapat memengaruhi perkembangan otak anak sejak masa awal kehidupan.
Meskipun mekanismenya masih terus diteliti, beberapa faktor diketahui dapat meningkatkan risiko seorang anak mengalami autism spectrum disorder, antara lain:
- Memiliki saudara kandung yang telah didiagnosis autism spectrum disorder.
- Memiliki kelainan genetik atau kromosom tertentu, seperti Fragile X syndrome atau Tuberous Sclerosis Complex (TSC).
- Mengalami komplikasi selama kehamilan atau proses persalinan.
- Dilahirkan dari orang tua dengan usia yang lebih lanjut, baik ibu maupun ayah.
Penting untuk dipahami bahwa keberadaan satu atau lebih faktor risiko tersebut tidak berarti seorang anak pasti akan mengalami autism spectrum disorder. Sebaliknya, banyak anak dengan faktor risiko tersebut tetap tumbuh dan berkembang secara normal. Oleh karena itu, deteksi dini, pemantauan tumbuh kembang, serta konsultasi dengan tenaga kesehatan apabila terdapat tanda-tanda keterlambatan perkembangan merupakan langkah yang sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Adapun gejala autisme umumnya adalah kesulitan bicara, tidak memahami ekspresi wajah dan sensitivitas terhadap rangsangan sensorik tertentu, seperti suara keras atau sentuhan yang intens. Orangtua perlu curiga jika anak tidak memberikan respon saat dipanggil atau mengurangi kontak mata pada usia 1-2 tahun. Namun gejala yang muncul bisa berbeda satu dengan yang lain, dengan rentang gejala ringan hingga berat.
Terapi perilaku dan komunikasi, dan terapi sensori bisa menjadi langkah perawatan yang bisa dilakukan untuk anak dengan autism spectrum disorder. Saat ini penelitian mengenai terapi stem cell untuk autism spectrum disorder sudah mulai dilakukan, salah satunya dengan menggunakan stem cell yang bersumber dari darah dan jaringan tali pusat.
Penelitian yang dilakukan oleh Dawson et al. (2017) menunjukkan bahwa terapi stem cell menggunakan darah tali pusat pada anak dengan autism spectrum disorder memberikan hasil yang menjanjikan. Setelah menjalani terapi, anak-anak menunjukkan peningkatan yang signifikan pada berbagai aspek perilaku, termasuk kemampuan berkomunikasi, keterampilan bersosialisasi, serta penurunan gejala autisme. Perbaikan tersebut dinilai melalui berbagai metode, seperti laporan orang tua, penilaian klinisi terhadap tingkat keparahan gejala dan tingkat perbaikan secara keseluruhan, pengukuran standar kosakata ekspresif, hingga pemeriksaan objektif menggunakan eye-tracking untuk menilai perhatian anak terhadap rangsangan sosial.
Menariknya, perbaikan perilaku mulai terlihat dalam enam bulan pertama setelah infus stem cell. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa manfaat terapi cenderung lebih besar pada anak yang memiliki tingkat kecerdasan (IQ) nonverbal dasar yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa terapi stem cell dari darah tali pusat berpotensi menjadi salah satu pendekatan yang menjanjikan dalam mendukung perkembangan anak dengan autism spectrum disorder.
Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Lv et al (2013) memperlihatkan bahwa kombinasi mononuclear cell (MNC) dari darah tali pusat dan mesenchymal stem cell dari jaringan tali pusat menunjukkan efek terapeutik yang lebih baik dibandingkan penggunaan mononuclear cell saja.
Kedua penelitian di atas juga menunjukkan penggunaan terapi stem cell pada anak-anak dengan autism spectrum disorder dinilai aman.
Oleh karena itu saat ini semakin banyak orang tua yang menyimpan darah dan jaringan tali pusat anaknya di fasilitas penyimpanan seperti di PT Cordlife Persada untuk berjaga-jaga bila dibutuhkan oleh anak tersebut ataupun anggota keluarga lainnya di masa depan.
Anda dapat berkonsultasi untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penyimpanan stem cell dari tali pusat bayi Anda lewat chat pada website PT Cordlife Persada