
Pahami Gangguan Perkembangan Anak: Cerebral Palsy

Cerebral palsy (CP) adalah sekumpulan gejala yang menyebabkan individu mengalami gangguan dalam kemampuan bergerak, menjaga keseimbangan dan kemampuan untuk menjaga postur. Cerebral palsy disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak yang menyebabkan gangguan fungsi dan perkembangan otak yang bertanggung jawab untuk mengontrol gerakan otot. Ini dapat terjadi pada saat janin di dalam kandungan, saat proses kelahiran ataupun segera setelah dilahirkan.
Gejala cerebral palsy berbeda-beda pada setiap individu. Pada kondisi yang parah, anak perlu menggunakan alat khusus agar bisa berjalan atau bahkan tidak bisa berjalan sama sekali dan memerlukan pendampingan seumur hidup.
Orang dengan cerebral palsy mengalami kesulitan dalam menggerakan dan menyeimbangkan tubuh. Beberapa kondisi lain seperti gangguan intelektual, kejang, masalah penglihatan, pendengaran atau wicara juga perubahan pada tulang belakang hingga masalah pada persendian dapat dialami oleh orang dengan cerebral palsy.
Diagnosis dini penting untuk kesejahteraan anak-anak di masa depan. Tindakan awal yang dapat dilakukan orang tua adalah memantau tumbuh kembang anak, jika orangtua merasa khawatir pada tumbuh kembang anak yang dinilai tidak sesuai dengan usianya maka lanjutkan dengan konsultasi dengan dokter anak.
Faktanya, tidak ada perawatan dengan obat-obatan yang bisa menyembuhkan cerebral palsy, Obat-obatan yang diberikan adalah untuk membantu menangani gejala yang ada seperti, kekakuan dan nyeri, secara umum terapi untuk cerebral palsy meliputi terapi fisik, terapi perilaku, terapi wicara dan intervensi bedah jika dibutuhkan.
Berdasarkan hasil meta-analisis yang dilakukan oleh Finch-Edmondson et al (2025) terapi stem cell yang berasal dari darah tali pusat (UCB) menunjukkan potensi dalam membantu meningkatkan kemampuan gerak pada anak dengan cerebral palsy. Hal ini terlihat dari hasil analisis terhadap 11 penelitian yang melibatkan 498 anak, dimana anak yang mendapatkan terapi UCB mengalami peningkatan kemampuan motorik yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak mendapatkan terapi. Perbaikan ini terlihat sejak bulan ke-6 dan tetap terlihat pada bulan ke-12 setelah terapi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa manfaat terapi cenderung lebih besar pada anak yang mendapatkan jumlah sel lebih tinggi, berusia di bawah 5 tahun, dan memiliki kondisi cerebral palsy yang lebih ringan. Dari sisi keamanan, terapi UCB juga dinilai aman, karena kejadian efek samping serius tidak menunjukkan perbedaan dibandingkan kelompok yang tidak menerima terapi.
Potensi terapi stem cell pada cerebral palsy juga telah diteliti dalam uji klinis sebelumnya. Gu et al. (2020) melaporkan adanya peningkatan signifikan pada fungsi motorik kasar dan fungsi kognitif pada anak dengan cerebral palsy setelah mendapatkan terapi mesenchymal stem cell. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa terapi stem cell, termasuk yang berasal dari darah dan jaringan tali pusat, masih terus diteliti sebagai salah satu pendekatan yang berpotensi membantu mendukung fungsi dan kualitas hidup anak dengan cerebral palsy.