
Pentingnya Menjaga Kesehatan dan Pencegahan Penyakit pada Anak

Sebagai orang tua, tentunya menginginkan anak untuk selalu dalam kondisi sehat dan bugar di berbagai tahap kehidupannya, banyak faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan seorang anak yang perlu diperhatikan oleh orang tua seperti asupan gizi seimbang, aktivitas yang mendukung motorik kasar dan halus, kondisi psikososial serta lingkungan anak.
WHO menyebutkan bahwa anak-anak memiliki risiko terkena penyakit dan virus lebih tinggi dibandingkan orang dewasa karena sistem imun tubuhnya masih berkembang dan anak sering kali belum bisa menjelaskan rasa sakit atau tidak nyaman pada tubuhnya. Agar anak tidak mudah terserang penyakit, orang tua perlu membiasakan anak menjalani pola hidup sehat, seperti mencuci tangan setelah beraktivitas, tidur cukup dan teratur hingga sering berjemur di bawah sinar matahari pagi secara langsung.
Langkah pencegahan selanjutnya adalah pemeriksaan kesehatan dan tumbuh kembang rutin dengan dokter dan pemberian vaksin lengkap di usia kanak-kanak yang bertujuan menciptakan kekebalan terhadap berbagai antigen sejak dini.
Sayangnya, beberapa jenis penyakit pada anak tidak dapat dicegah, seperti penyakit keganasan (kanker) ataupun penyakit yang diturunkan secara genetik. Orang tua perlu waspada terhadap kanker pada anak yang angka kejadiannya di Indonesia terus meningkat, salah satu jenis kanker yang sering terjadi pada usia anak adalah leukemia.
Leukemia terjadi akibat sumsum tulang memproduksi sel darah putih secara berlebihan dan tidak sempurna sehingga terjadi overload yang menyebabkan sel darah putih ‘ditumpahkan’ ke aliran darah, akibatnya sistem kekebalan tubuh menjadi terganggu dan menimbulkan berbagai keluhan seperti demam, nyeri tubuh hingga pembesaran kelenjar getah bening.
Selain leukemia, orang tua juga perlu tahu dan waspada terhadap penyakit genetik lainnya seperti thalassemia. Thalassemia adalah penyakit kelainan darah merah yang menyebabkan tubuh anak tidak mampu memproduksi rantai hemoglobin dalam jumlah normal. Thalasemia bisa diketahui sejak anak berusia 2 tahun. Gejala yang tampak jelas jika anak mengalami thalasemia seperti wajah pucat, lemas, serta berat badan dan tinggi badan cenderung di bawah rata-rata anak seusianya.
Selain melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah sebagai skrining penyakit genetik, orang tua juga perlu mencari informasi mengenai pilihan langkah penanganan untuk penyakit seperti leukemia dan thalasemia seperti terapi regeneratif dengan stem cell. Stem cell merupakan sel induk yang memiliki kemampuan untuk berubah menjadi berbagai tipe sel dan memperbanyak dirinya sehingga memungkinkan perbaikan ataupun penggantian pada sel yang rusak. Saat ini terdapat 3 sumber stem cell yang sering digunakan yaitu sumsum tulang, darah perifer serta darah dan jaringan tali pusat
Cordlife merupakan bank darah tali pusat dan jaringan tali pusat pertama di Indonesia. Darah tali pusat yang berasal dari tali pusat bayi yang baru dilahirkan mengandung berbagai macam stem cell yang berperan dalam perkembangan berbagai jaringan, organ, dan sistem tubuh. Salah satu jenis stem cell yang ditemukan pada darah tali pusat adalah hematopoietic stem cell yang dapat berkembang menjadi sel-sel pembentuk darah. Jenis stem cell ini yang dapat menjadi salah satu langkah awal untuk mengantisipasi jika anak terdiagnosis thalasemia agar proses pengobatan dan penyembuhannya bisa dilakukan secara maksimal dengan efek samping seminimal mungkin.
Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut dan berkonsultasi lebih dalam mengenai penyimpanan stem cell dari darah tali pusat ataupun tali pusat Anda dapat langsung bertanya pada kolom chat website PT. Cordlife Persada