
Tanda-tanda Awal Masalah Tumbuh Kembang pada Anak

Setiap orang tua mendambakan pertumbuhan dan perkembangan yang normal untuk si kecil. Tumbuh kembang anak menjadi acuan para orang tua untuk mempersiapkan si kecil menghadapi dunia luar. Namun, hal mendasar dalam perkembangan si kecil setiap bulan, atau di satu tahun pertama mereka perlu mendapatkan arahan dan stimulasi yang tepat dari orang tua.
Berbagai aspek perkembangan anak yang perlu diketahui orang tua, seperti keterampilan motorik kasar, motorik halus, bahasa dan komunikasi juga perkembangan sosial, emosional, dan kognitif harus berjalan seimbang satu dengan yang lain, jika ada satu aspek yang tidak berkembang dengan baik orang tua harus segera melakukan koreksi.
Menurut IDAI, ada beberapa tanda gangguan tumbuh kembang yang perlu diwaspadai orang tua, diantaranya :
- Gangguan motorik kasar: gangguan refleks, gangguan pergerakan.
- Gangguan motorik halus: anak hanya menggunakan satu tangan, pandangan kurang fokus.
- Gangguan bahasa dan komunikasi: termasuk keterlambatan berbicara atau kesulitan dalam berkomunikasi.
- Gangguan sosial dan emosional: anak mungkin mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya atau menunjukkan emosi yang sesuai.
- Gangguan Kognitif: termasuk belum bisa merespon saat dipanggil hingga belum mampu merangkai kata
Beberapa kondisi gangguan tumbuh kembang anak, yaitu seperti Cerebral Palsy, Autism Spectrum Disorder dan gangguan pertumbuhan seperti stunting ataupun global delay development. Berdasarkan data yang disebutkan pada salah satu artikel di website IDAI, sekitar 5 hingga 10% anak diperkirakan mengalami keterlambatan perkembangan. Data angka kejadian keterlambatan perkembangan umum belum diketahui dengan pasti, namun diperkirakan sekitar 1 hingga 3% anak di bawah usia 5 tahun mengalami keterlambatan perkembangan umum.
Deteksi dini gangguan tumbuh kembang penting dilakukan oleh orang tua dengan mengidentifikasi kecurigaan orang tua terhadap keterlambatan yang terjadi pada si kecil, hal ini penting untuk segera diketahui sebagai langkah awal antisipasi keterlambatan penanganan yang dapat menyebabkan komplikasi. Menurut WHO, semakin dini intervensi yang dilakukan akan semakin meningkatkan hasil perkembangan anak secara signifikan, dan semakin baik dampaknya terhadap kualitas perkembangan anak.
Anak yang diterapi lebih dini juga cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik di masa depan. Tentunya hal-hal di atas memerlukan dukungan dari orang tua. Seperti kisah inspiratif dari laman kisah sukses Cordlife yang menceritakan tentang terapi pada anak dengan cerebral palsy menggunakan stem cell yang berasal dari darah dan jaringan tali pusat.
Harumi lahir dengan kondisi sehat tanpa kekurangan apapun. Namun, ketika baru beberapa hari, ia mengalami kejang pertamanya. Ternyata, Harumi didiagnosa cerebral palsy oleh dokter. Langkah awal yang dilakukan orang tuanya setelah berkonsultasi dengan dokter, Harumi kemudian menjalani terapi stem cell pertamanya menggunakan stem cell yang diperoleh dari tali pusatnya sendiri., kondisinya mengalami perbaikan, dan saat Harumi berusia dua tahun, ia kembali menjalani terapi stem cell menggunakan stem cell yang bersumber dari tali pusat milik adiknya. Setelah terapi, Harumi menunjukkan perbaikan, ia dapat melakukan kontak mata dengan baik dan dapat mengikuti arah cahaya.
Kisah Harumi ini menjadi secercah harapan bagi orang tua yang memiliki anak dengan cerebral palsy. Orang tua yang ingin menyimpan darah dan jaringan tali pusat anaknya tentu akan memilih fasilitas yang sudah memiliki izin operasional dari pemerintah dan juga akreditasi yang menunjukkan standar pelayanan yang diberikan. Cordlife telah mendapatkan akreditasi untuk penyimpanan, pemrosesan dan distribusi untuk darah tali pusat dan sel somatik dari Association for the Advancement of Blood & Biotherapies (AABB) yang merupakan akreditasi tertinggi untuk fasilitas penyimpanan darah non-publik.
Sumber:
https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/mengenal-keterlambatan-perkembangan-umum-pada-anak