
Tuberkulosis Berpotensi Menyebabkan Berat Badan Anak Stuck?

Anak-anak bertumbuh dengan cepat. Berat badan dan tinggi badan terus bertambah seiring dengan pertambahan usia, bahkan perubahan tersebut dapat terlihat hanya dalam hitungan bulan. Pertumbuhan anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari genetik, asupan nutrisi sejak masa kehamilan, penyakit bawaan lahir, infeksi, hingga lingkungan tempat anak dibesarkan. Namun, salah satu hal yang terkadang luput dari perhatian adalah dampak infeksi yang terjadi berulang, berlangsung lama, atau cukup berat terhadap proses pertumbuhan anak.
Ketika mengalami infeksi, sistem imun anak akan aktif untuk melawan kuman penyebab penyakit. Proses ini memicu peradangan yang membutuhkan energi dan nutrisi. Akibatnya, nutrisi yang seharusnya digunakan untuk mendukung pertumbuhan dialihkan untuk membantu tubuh melawan infeksi. Jika terjadi berulang atau berlangsung lama, kondisi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan anak. Salah satu infeksi yang perlu mendapat perhatian adalah tuberkulosis.
Di Indonesia, tuberkulosis masih menjadi tantangan kesehatan yang besar. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024 yang diterbitkan oleh WHO, Indonesia menempati urutan kedua dengan jumlah kasus tuberkulosis tertinggi di dunia. Kasus tuberkulosis pada anak menyumbang sekitar 9% dari total kasus tuberkulosis di Indonesia. Diagnosis tuberkulosis pada anak juga tidak selalu mudah karena beberapa faktor di antaranya, gejalanya dapat menyerupai penyakit lain, pengambilan sampel dahak sulit dilakukan terutama pada bayi dan anak kecil, serta jumlah bakteri dalam sampel sering kali lebih sedikit sehingga lebih sulit terdeteksi.
Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang dapat menginfeksi berbagai organ tubuh, termasuk paru-paru, kelenjar getah bening, selaput otak, tulang, sendi, dan organ lainnya. Pada anak, sebagian besar kasus mengenai paru-paru, sementara sekitar 20% dapat terjadi di luar paru-paru. Karena gejalanya dapat berbeda pada setiap anak, orang tua perlu memperhatikan berbagai perubahan kondisi yang muncul.
Beberapa gejala tuberkulosis pada anak antara lain berat badan turun atau tidak bertambah selama dua bulan meskipun asupan nutrisi cukup, demam lebih dari dua minggu yang berulang atau tanpa sebab yang jelas, anak tampak lemas dan kurang aktif bermain, serta keringat malam yang disertai gejala umum lainnya. Gejala juga dapat muncul sesuai dengan organ yang terinfeksi, seperti batuk lebih dari dua minggu, batuk berdarah, sesak, pembengkakan pada tulang dan sendi, maupun pembesaran kelenjar getah bening.
Tuberkulosis merupakan penyakit yang dapat dicegah, salah satunya melalui vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) yang diberikan kepada bayi sebelum berusia satu bulan. Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap tuberkulosis berat dan penyebaran infeksi melalui pembuluh darah pada tahun pertama kehidupan, meskipun tidak memberikan perlindungan penuh terhadap tuberkulosis paru. Pencegahan juga perlu dilakukan dengan menjaga lingkungan tempat anak tumbuh. Karena kuman tuberkulosis menyebar melalui udara, orang tua perlu memperhatikan sirkulasi udara, pencahayaan, dan kepadatan penghuni di dalam rumah. Penggunaan masker juga perlu dipertimbangkan ketika berada di area dengan risiko paparan tinggi dan sirkulasi udara kurang baik. Jika anak atau anggota keluarga melakukan kontak dengan penderita tuberkulosis, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan mempertimbangkan terapi pencegahan.
Selain pencegahan dan penanganan infeksi, perkembangan ilmu kedokteran juga terus membuka peluang terhadap pendekatan terapi baru pada tuberkulosis. Salah satunya adalah pemanfaatan stem cell sebagai pendekatan terapi seluler. Berdasarkan penelitian Devi et al. (2023), mesenchymal stem cells (MSCs) memiliki kemampuan imunomodulator yang dapat membantu mengatur respons sistem imun terhadap infeksi. Dalam tuberkulosis, MSC diketahui berinteraksi dengan Mycobacterium tuberculosis dan sel-sel imun di sekitar granuloma. Temuan ini menunjukkan potensi MSC untuk terus dikembangkan sebagai salah satu pendekatan terapi seluler pada tuberkulosis, meskipun mekanisme dan efektivitasnya masih perlu diteliti lebih lanjut.
Perkembangan penelitian mengenai stem cell juga membuat darah dan jaringan tali pusat semakin mendapat perhatian sebagai sumber sel yang memiliki potensi terapeutik. Darah tali pusat mengandung hematopoietic stem cells (HSC), sementara jaringan tali pusat merupakan salah satu sumber mesenchymal stem cells (MSC). Kedua jenis sel tersebut memiliki karakteristik biologis yang berbeda dan terus diteliti untuk berbagai kebutuhan medis. Oleh karena itu, penyimpanan darah dan jaringan tali pusat saat kelahiran dapat menjadi salah satu cara untuk mempertahankan potensi sumber sel tersebut agar dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan medis di masa mendatang.
Pada akhirnya, menjaga anak dari infeksi bukan hanya penting untuk mencegah penyakit, tetapi juga untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan secara optimal. Dengan memahami risiko tuberkulosis, melakukan pencegahan sejak dini, serta mengikuti perkembangan ilmu kedokteran, orang tua dapat mengambil langkah yang lebih baik dalam menjaga kesehatan anak, termasuk mempertimbangkan potensi sumber stem cell yang tersedia sejak awal kehidupan. Cari tahu lebih lanjut mengenai penyimpanan stem cell dari darah dan jaringan tali pusat melalui https://www.cordlife.co.id/en/why-save-cord-blood
Tambahan sumber:
- https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/child-growth-standards
- https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK567767/
- Black RE. Patterns of Growth in Early Childhood and Infectious Disease and Nutritional Determinants. Nestle Nutr Inst Workshop Ser. 2017;87:63-72. doi: 10.1159/000448938. Epub 2017 Mar 17. PMID: 28315889.
- Global tuberculosis report 2024. Geneva: World Health Organization; 2024. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO
- https://www.who.int/news/item/21-03-2012-childhood-tuberculosis-neglected-despite-available-remedies
- https://www.cdc.gov/tb/prevention/index.html
- Noviana, I., & Landudjama, L. (2024). Preventing Tuberculosis Transmission at Home: a Literature Review . Journal of Tropical Diseases and Health Science, 3(2), 06–12. https://doi.org/10.31965/jtdhs.v3i2.2211
- Devi A, Pahuja I, Singh SP, Verma A, Bhattacharya D, Bhaskar A, Dwivedi VP, Das G. Revisiting the role of mesenchymal stem cells in tuberculosis and other infectious diseases. Cell Mol Immunol. 2023 Jun;20(6):600-612. doi: 10.1038/s41423-023-01028-7. Epub 2023 May 12. PMID: 37173422; PMCID: PMC10176304.