
Harapan Baru Terapi Penyakit Otak Melalui Stem Cell dari Darah dan Jaringan Tali Pusat

Ketika seseorang mengalami gangguan pada otak dan sistem saraf, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh tubuh, tetapi juga dapat mengubah cara seseorang bergerak, berbicara, berpikir, bahkan menjalani aktivitas sehari-hari. Bagi keluarga, kondisi tersebut dapat menghadirkan kekhawatiran sekaligus harapan untuk menemukan pilihan penanganan yang lebih baik. Di tengah perkembangan ilmu kedokteran, para peneliti terus mencari berbagai pendekatan yang dapat membantu melindungi sel saraf dan mendukung proses perbaikan jaringan. Salah satunya adalah stem cell yang semakin banyak diteliti dalam bidang regenerative medicine.
Darah dan jaringan tali pusat merupakan salah satu sumber stem cell yang saat ini banyak diteliti. Mesenchymal stem cells (MSC) yang terdapat pada jaringan tali pusat diketahui dapat menghasilkan berbagai faktor biologis, termasuk faktor neurotropik, sitokin anti-inflamasi, dan faktor yang mendukung pembentukan pembuluh darah. Menurut Sanberg et al. (2005), berbagai faktor tersebut berpotensi membantu mengurangi peradangan, mengatur respons sistem imun atau imunomodulasi, mendukung kelangsungan hidup sel saraf, serta memberikan efek neuroprotektif.
Selain MSC, komponen seluler dari darah tali pusat juga memiliki potensi yang terus diteliti. Sanberg et al. (2005) melaporkan bahwa sel CD34+ dari darah tali pusat dapat mendukung proses pembentukan pembuluh darah baru atau angiogenesis pada area otak yang mengalami iskemia. Proses ini juga dapat berkaitan dengan neurogenesis, yaitu terbentuknya sel saraf baru, sehingga membuka peluang penelitian lebih lanjut untuk mendukung pemulihan jaringan otak yang mengalami kerusakan.
Baca juga: Harapan Baru Terapi Penyakit Otak Melalui Stem Cell dari Darah dan Jaringan Tali Pusat
Penelitian mengenai penggunaan stem cell dari tali pusat juga telah dilakukan pada berbagai kondisi neurologis. Salah satunya adalah penelitian Reyhani et al. (2019) pada anak dengan autism spectrum disorder (ASD) yang diberikan kombinasi mesenchymal stem cells (MSC) dan cord blood mononuclear cells (CBMNC). Setelah 24 minggu, kelompok yang mendapatkan kombinasi tersebut menunjukkan perbaikan skor Childhood Autism Rating Scale (CARS) dibandingkan kondisi awal. Penelitian tersebut memberikan gambaran mengenai potensi pendekatan berbasis stem cell pada kondisi neurologis, meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami efektivitas dan keamanannya secara lebih menyeluruh.
Berbagai penelitian tersebut menunjukkan bahwa stem cell dari darah dan jaringan tali pusat memiliki potensi yang terus dieksplorasi dalam bidang kesehatan, termasuk untuk kondisi yang berkaitan dengan otak dan sistem saraf. Namun, sebagian besar penggunaannya untuk penyakit neurologis masih berada dalam tahap penelitian dan belum dapat dianggap sebagai terapi yang terbukti untuk semua kondisi.
Perkembangan penelitian ini juga menjadi salah satu alasan mengapa penyimpanan darah dan jaringan tali pusat sejak kelahiran dapat menjadi pertimbangan bagi keluarga. Dengan menyimpan sumber stem cell tersebut, keluarga dapat mempertahankan pilihan biologis dari momen kelahiran untuk kemungkinan pemanfaatan di masa depan, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi regenerative medicine.
PT Cordlife Persada menyediakan layanan penyimpanan darah dan jaringan tali pusat sebagai bagian dari persiapan keluarga untuk masa depan. Cordlife Indonesia juga telah memperoleh akreditasi dari AABB (Association for the Advancement of Blood & Biotherapies), organisasi internasional yang menetapkan standar kualitas untuk berbagai layanan di bidang terapi seluler.
Karena pengambilan darah dan jaringan tali pusat hanya dapat dilakukan pada momen kelahiran, kesempatan tersebut tidak dapat diulang. Menyimpannya sejak awal berarti menjaga salah satu sumber biologis berharga dari kelahiran anak, sambil memberikan ruang bagi kemungkinan pemanfaatannya di masa depan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan. Diskusikan rencana penyimpanan sumber biologis berharga ini bersama konsultan kami melalui Whatsapp.
Baca juga: Mengenal Penyakit Neurodegeneratif: Ketika Fungsi Sel Saraf Perlahan Menurun
Written by Cordlife Editorial Team
Reviewed by dr. Ryna Radiant
Last updated: September 2026