
Progressive Supranuclear Palsy: Ketika Gerakan Mata dan Keseimbangan Mulai Terganggu

Progressive Supranuclear Palsy (PSP) merupakan penyakit neurodegeneratif progresif yang dapat memengaruhi pergerakan tubuh, keseimbangan, pergerakan mata, hingga fungsi kognitif dan perilaku. Kondisi ini berkaitan dengan penumpukan protein tau di otak yang dapat menyebabkan kerusakan sel saraf. PSP tergolong penyakit yang jarang ditemukan, dengan prevalensi yang dilaporkan sekitar 1,4–8,3 kasus per 100.000 individu dan umumnya mulai muncul pada usia sekitar 63 tahun.
Gejala PSP berkembang secara perlahan dan pada banyak kasus muncul secara relatif simetris. Salah satu tanda awal yang sering ditemukan adalah gangguan keseimbangan dan kesulitan berjalan yang menyebabkan seseorang lebih mudah terjatuh. Cara berjalan dapat menjadi kaku dengan posisi tubuh yang cenderung tegak, langkah yang kurang stabil, serta kesulitan saat berbalik arah. Gangguan refleks untuk mempertahankan keseimbangan juga dapat menyebabkan pengidap sering terjatuh ke belakang.
Baca juga: Amyotrophic Lateral Sclerosis: Ketika Otot Kehilangan Kendali
Seiring perkembangan penyakit, gerakan tubuh dapat menjadi semakin lambat dan kaku, terutama pada wajah, leher, dan batang tubuh. Sebagian pengidap juga dapat mengalami dystonia, yaitu kontraksi otot yang tidak terkendali sehingga bagian tubuh tertentu mengalami posisi atau gerakan yang tidak normal. Pada PSP, kondisi ini dapat menyebabkan kepala dan leher tertarik ke belakang (retrocollis). Gangguan berbicara dan menelan juga dapat muncul pada tahap selanjutnya.
Salah satu ciri yang cukup khas pada PSP adalah gangguan pergerakan mata. Pengidap dapat mengalami kesulitan menggerakkan mata, terutama ke arah atas dan bawah, serta gangguan pada gerakan saccadic, yaitu gerakan mata yang cepat dari satu titik ke titik lainnya, seperti saat membaca. Gangguan ini dapat membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit, misalnya membaca, makan, maupun berjalan dengan aman. Seiring perkembangan penyakit, pergerakan mata dapat semakin terbatas.
Karena beberapa gejalanya menyerupai penyakit Parkinson, PSP terkadang sulit dibedakan pada tahap awal. Namun, terdapat beberapa karakteristik yang dapat membantu membedakannya. PSP umumnya menyebabkan gejala yang lebih simetris, disertai gangguan pergerakan mata dan kekakuan pada wajah. Sementara itu, penyakit Parkinson lebih sering diawali pada satu sisi tubuh dan memiliki tremor saat istirahat sebagai salah satu gejala yang khas. Respons terhadap obat levodopa juga umumnya lebih terbatas pada PSP dibandingkan pada penyakit Parkinson.
Hingga saat ini, belum terdapat terapi yang dapat menyembuhkan PSP. Penanganan yang tersedia terutama ditujukan untuk membantu mengendalikan gejala, mempertahankan kemampuan fungsional, dan meningkatkan kualitas hidup. Di sisi lain, perkembangan penelitian terus membuka peluang untuk mengeksplorasi pendekatan terapi baru, termasuk penggunaan stem cell.
Salah satu laporan kasus yang dipublikasikan oleh Li et al. (2021) melaporkan penggunaan stem cell yang berasal dari darah tali pusat pada seorang pasien laki-laki berusia 61 tahun dengan PSP. Setelah terapi, kekakuan pada leher dan tungkai dilaporkan mulai berkurang dalam tiga bulan, dan setelah enam bulan pasien tidak lagi memerlukan selang makan. Kondisinya kemudian dilaporkan relatif stabil selama dua tahun. Dalam pemantauan hingga delapan tahun, tidak ditemukan perburukan neurologis yang bermakna, meskipun pada tahun ketiga pasien kembali menggunakan selang makan.
Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai potensi stem cell sebagai salah satu pendekatan yang masih terus diteliti pada penyakit neurodegeneratif seperti PSP. Namun, karena bukti tersebut berasal dari laporan kasus, hasilnya belum dapat digunakan untuk membuktikan efektivitas terapi secara umum dan masih diperlukan penelitian dengan jumlah pasien yang lebih besar serta desain penelitian yang lebih kuat.
Perkembangan penelitian stem cell juga menjadi salah satu alasan mengapa penyimpanan sumber stem cell sejak awal kehidupan menjadi pilihan yang mulai dipertimbangkan oleh sebagian keluarga. Darah tali pusat kaya akan hematopoietic stem cells (HSC), sedangkan jaringan tali pusat mengandung mesenchymal stem cells (MSC), yang saat ini terus diteliti untuk berbagai potensi aplikasi di bidang regeneratif.
Melalui penyimpanan darah dan jaringan tali pusat di Cordlife, keluarga dapat menjaga sumber biologis berharga dari momen kelahiran untuk kemungkinan pemanfaatan di masa depan, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan terapi berbasis stem cell. Konsultasikan rencana penyimpanan darah dan jaringan tali pusat bersama konsultan kami melalui Whatsapp.
Baca Juga: Persiapan Keluarga Sehat di Masa Depan
Sumber:
- Agarwal S, Gilbert R. Progressive Supranuclear Palsy. [Updated 2023 Mar 27]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK526098/
- Ichikawa-Escamilla, E., Velasco-Martínez, R. A., & Adalid-Peralta, L. (2024). Progressive Supranuclear Palsy Syndrome: An Overview. IBRO Neuroscience Reports, 16, 598–608. https://doi.org/10.1016/j.ibneur.2024.04.008
- Li H, Yuan F, Du Y, Pan T, Wen W, Li S, Wang L, Lu A. Umbilical cord blood stem cells transplantation in a patient with severe progressive supranuclear palsy: a case report. J Med Case Rep. 2021 Nov 29;15(1):574. doi: 10.1186/s13256-021-03139-z. PMID: 34844635; PMCID: PMC8628425.
- Progressive Supranuclear Palsy (PSP). (n.d.). National Institute of Neurological Disorders and Stroke. https://www.ninds.nih.gov/health-information/disorders/progressive-supranuclear-palsy-psp
- Pandya, P. (2026, February 26). PSP vs Parkinson’s – Understanding the Differences to Help Reduce Misdiagnosis. PSPA. https://www.pspassociation.org.uk/news/psp-vs-parkinsons-understanding-the-differences-to-help-reduce-misdiagnosis/
Written by Cordlife Editorial Team
Reviewed by dr. Ryna Radiant
Last updated: September 2026